BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sekolah adalah tempat dimana
manusia atau insan menempuh pendidikan atau menuntut ilmu. Selain itu di dalam
sekolah kita dapat berinterksi kepada masyarakat atau lingkungan. Di dalam
sebuah lingkungan sekolah terdapat pendidik dan peserta didik, atau biasa di
sebut dengan guru atau dosen dan anak murid, siswa atau mahasiawa. Sebagai
pendidik kita tentunya harus di didik terlebih dahulu, agar kita mampu menjadi
seorang pendidik yang baik dan benar dan pendidik yang professional. Selain itu
sebagai seorang pendidik kita juga dituntut untuk mengetahui dan memahami apa
saja yang berhubungan dengan anak didik kita. Dalam pembahasan ini kita akan
membahas Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik pada Masa Pra Sekolah.
Sejak manusia lahir, bahkan dalam kandungan saat terjadi ovum (pembuahan)
sampai meningal dunia, manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Dalam
kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu, yaitu pertumbuhan
dan perkembangan. Banyak orang yang mengunakan istilah pertumbuhan dan
perkembangan secara bergantian. Kedua proses ini berlangsung secara
interdepedensi, artinya saling bergantung satu sama lain. Kedua proses ini
tidak dapat di pisahkan dalam bentuk-bentuk secara pilah sendiri-sendiri, akan
tetapi bisa dibedakan untuk maksud lebih memperjelas penggunaanya. Mempelajari
tentang Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik pada Masa Pra Sekolah dapat
membantu kita dalam memahami kondisi atau kedaan anak didik kita. Pertumbuhan
itu sendiri adalah perubahan fisiologis dengan bertambah berat, panjang, dan
pematangan fungsi-fungsi fisik lainya. Sedangkan perkembangan adalah perubahan
dan kompleksitas fungsi fisik dan psikis. Dalam hal ini kedua proses tersebut
memiliki tahapan-tahapan, diantaranya tahap secara moral dan spiritual. Dengan
mempelajari materi ini setidaknya kita tau bagaimana cara mendidik anak didik
kita yang sedang tumbuh dan berkembang.
B. Rumusan
Masalah
Adapun Rumusan Masalah Makalah ini adalah sebagai
berikut :
1.
Apa definisi
pertumbuhan dan perkembangan?
2.
Apa saja
aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan peserta didik pada masa pra sekolah?
3.
Apa yang
dimaksud dengan perkembangan sosial dan emosi anak?
4.
Apa itu
perkembanagn moral?
C. Tujuan
Penulisan
1.
Mempelajari
tumbuh kembang pada anak pra sekolah
2.
Mengetahui
pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik, intelektual social, emosional,
dan perkembangan moral.
BAB
11
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Pertumbuhan dan Perkembangan
Dalam kehidupan manusia semenjak dalam kandungan hinga meninggal dunia,
manusia pernah melalui proses-proses yang di dalamnya terjadi
perubahan-perubahan baik fisik maupun psikis. Perubahan tersebut terjadi karena
adanya pertumbuhan dan perkembangan dalam diri manusia. Pertumbuhan dan
perkembangan adalah dua istilah yang senantiasa digunakan secara bergantian,
keduanya tidak bisa di pisah-pisah, akan tetapi saling bergantung satu sama
lainya.
Secara umum Pertumbuhan adalah perubahan fisiologis dengan bertambah
berat, panjang dan pematangan fisik-fisik lainya. Contohnya adalah bayi
bertambah berat dan tingginya. Perkembangan adalah perubahan dan kompleksitas
fungsi fisik dan psikis. Contonya adalah anak dalam percakapan sehari-hari
bertambah baik, perbendaharaan kosa kata anak bertambah banyak. Berikut
definisi pertumbuhan dan perkembangan menurut para ahli :
1.
Kartono. (1982)
Perkembangan adalah perubahan
psikofisis sebagai hasil pematangan proses psikis dan fisis pada anak yang
ditunjang oleh faktor ingkungan dan proses belajar pada fase tertentu menuju
kedewasaan.
2.
Monks, dkk. (1984)
Perkembangan adalah berfungsinya
aspek fisik atau psikis tertentu.
3.
Warner, dkk. (1994)
Perkembangan adalah unsur keseluruhan
(totalitas) dan berkesinambungan yang berlangsung secara bertahap.
4.
Libert, Paulus dan Stauss. (1990)
Perkembangan adalah proses perubahan
dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi
dalam lingkungan.
5.
Crow dan Crow
Pertumbuhan pada umumnya dibatasi
pada perubahan-perubahan struktura dan fungsional dalam pembentukan seseorang
secara jasmaniah dari saat masi terbentuk konseptional (janin) melalui periode
pranetal (dalam kandungan), postnatal (lahir) sampai pada kedewasaanya.
6.
Oman Karnmana
Pertumbuhan adalah proses
bertambahnya proses protoplasma sel pada suatu organisme, biasanya disertai
dengan pertambahan ukuran berat serta jumblah sel yang bersifat tidak kembali
pada keadaan semula.
7.
Tim Biologi
Pertumbuhan adalah proses penambahan
volume tubuh makhluk hidup yang sifatnya tidak bisa kembali ke keadaan semula.
Penambahan disebabkan karena adanya penambahan jumblah dan volume sel, karena
adanya pembelahan mitosis dan pembesaran sel.
1.
Perbedaan Pertumbuhan dan Perkembangan
a.
Ciri-ciri pertumbuhan adalah sebagai berikut :
1)
Dalam pertumbuhan akan terjadi perubahan ukuran dalam
hal bertambahnya ukuran fisik, seperti berat badan, tinggi badan, lingkar
kepala, lingkar lengan, lingkar dada, dan lain-lain.
2)
Dalam pertumbuhan dapat terjadi perubahan proporsi
yang dapat terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia yang muncul mulai
dari masa konsepsi hingga dewasa.
b.
Ciri-ciri perkembangan adalah sebagai berikut :
1)
Perkembangan selalu melibatkan pertumbuhan yang
diikuti dari perubahan fungsi, seperti perkembangan system reproduksi akan
didikuti perubahan pada fungsi alat kelamin.
2)
Perkembangan memiliki pola yang konstan dengan hukum
tetap, yaitu perkembangan dapat terjadi dari daerah kepala menuju kearah kaudal
atau dari bagian proksimal ke bagian distal.
3)
Perkembangan memiliki tahapan yang mulai dari kemauan
melakukan hal yang sederhana menuju kemampuan melakukan hal yang sempurna.
2.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan
a.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan adalah
sebagai berikut :
1)
Faktor eksternal
·
Keluarga
·
Lingkungan
·
Teman bermain
·
Budaya
·
Media masa
·
Pendididkan
2)
Factor internal
·
Genetik
·
Kondisi fisik
·
Kemampuan menyesuaikan pribadi dan social individu
b.
Factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan adalah
sebagai berikut:
1)
Teori Nativisme
Teori nativisme berpendapat bahwa
perkembangan manusia ditentukan oleh natives (pembawaan) atau keturunan. Jika
pembawaan atau keturunanya baik maka baik pula perkembanganya. Sebaliknya, jika
pembaruanya buruk, maka perkembangan anaknya menjadi buruk pula. Tokoh utama
teori ini adalah Arthur Schopenhaner (1788-1860) seorang filsuf jerman. Aliran filsafat ini disebut juga dengan
aliran pesimistis. Secara biologis memang ada aspek-aspek biologis sebagai
pembawaan yang diturunkan oleh orang tua kepada anaknya misalnya warna kulit,
rambut, bentuk hidung. Adapun sifat-sifat lain yang diperoleh orang tua karena
pengalaman dan pendidikan dapat diturunkan kepada anak.
2)
Teori Empirisme atau Lingkungan
Teori empirisme bertentangan dengan
nativisme. Tokoh teori ini adalah John Lock (1632-1707). Menurut teori ini
perkembangan manusia ditentukan oleh empiris atau lingkungan. Teori ini juga
berpendapat bahwa perkembanagn anak ditentukan oleh pengaruh pengalaman
pendidikan. Pada aliran ini anak diumpamakan kertas putih yang dapat ditulis
dengan tinta warna apa saja. Perumpamaan tersebut menekankan pentingnya
pendidikan pada perkembanagn anak.
3)
Teori Konvergensi
Teori ini berpendapat bahwa factor
yang mempengaruhi perkembangan manusia dipengaruhi oleh factor pembawaan atau
lingkungan, yang keduanya sama mempunyai peranan yang penting. Factor hereditas
tidak berkembanag tanpa adanya factor pendidikan (lingkungan), dan begitu pula
sebaliknya, factor lingkungan juga tidak berarti tanpa adanya potensi (bawaan)
dari anak. Factor tersebut akan tergantung pada interaksi anak dengan
lingkunganya. Bila ineteraksinya bagus, maka diharapkan akan memperoleh hasil
yang bagus dan sebaliknya jika interksinya tidak baik maka hasilnya tidak akan
baik pula.
B.
Aspek-aspek
Perkembangan Anak pada Masa Pra Sekolah
1.
Perkembangan
Fisik
Perkembangan
fisik bayi mempunyai karakteristik seperti berikut :
1.
Pada tahun pertama pertumbuhan fisik
sangat cepat sedangkan pada tahun kedua sudah mulai mengendur.
- Pola perkembangan bayi laki-laki dan bayi perempuan sama.
- Tinggi badan secara proporsional lebih lambat dari pertumbuhan berat badan pada tahun pertama dan lebih cepat pada tahun kedua.
- Pertumbuhan otak tampak dengan bertambah besarnya ukuran tengkorak kepala.
- Organ keindraan berkembang dengan cepat selama masa bayi dan sanggup berfungsi dengan memuaskan sejak bulan-bulan pertama dari kehidupan. Alat indra lainnya yang juga berkembang adalah pendengaran dan penciuman.
- Fungsi-fungsi fisiologis. Masa bayi merupakan masa dasar pembinaan pola-pola seperti makan, tidur, dan buang air harus terbentuk.
- Perkembangan penguasaan otot-otot. Perkembangan penguasaan otot-otot mengikti pola yang jelas dan dapat diduga yang ditentukan oleh hukum arah perkembangan. Menurut hukum ini, penguasaan atau pengendalian otot-otot bergerak melalui tubuh dari arah kepala munuju kaki.
2.
Perkembangan Intelegensi
Sejak tahun
pertama dari usia bayi, fungsi intelegensi sudah mulai tampak dalam bertingkah
lakunya, umpamanya dalam bertingkah laku motorik dan berbicara. Anak yang
cerdas menunjukan gerakan-gerakan lancar, serasi, dan berkoordinasi dan cepat
dalam perkembangan bahasanya. Sedangkan anak yang kurang cerdas,
gerakan-gerakannya kaku, dan kurang terkoordinasi. Dilihat dari perkembangan
kognitifnya, menurut Piaget, usia bayi (tahun pertama) ini berada pada periode
sensorimotor. Bayi mengenal objek-objek yang berada disekelilingnya melalui
system pengindraan (penglihatan dan pendengaran dan indra lainnya) serta
gerakan motoriknya (refleks, seperti mengenyot dan menggerakkan kepala ke arah
rangsangan). Meskipun ketika baru dilahirkan seorang bayi sangat bergantung dan
tidak berdaya, tetapi sebagian alat-alat indranya sudah langsung bisa berfungsi
seperti mengenyot dan menghisap susu ibu.
3.
Perkembangan Emosi
Pada usia
0-8 minggu kehidupan bayi sangat dikuasai oleh emosi (impulsif) dan
emosinya sangat bertalian dengan indrawinya (fisik) dengan kualitas
perasaan; senang dan tidak senang. Misalnya bayi senyum atar tidur pulas kalau
merasa kenyang, hangat, dan nyaman. Dan dia menangis kalau lapar, haus, dingin
atau sakit. Pada usia 8 minggu hingga 1 tahun, perasaan psikis sudah mulai
berkembang. Anak tersenyum (senang) jika melihat mainan yang didapatinya, atau
melihat orang yang telah dikenalnya. Dan sebaliknya ia akan tidak senang
jika melihat orang yang tidak dikenalnya atau menangis. Pada fase ini terjadi
penguraian yaitu dari perasaan senang dan tidak senang jasmaniah menjadi
perasaan-perasaan marah, jengkel, terkejut, dan takut. Pada usia 1,0 tahun-3,0
tahun gejala-gejala perkembangan emosi bayi adalah sebagai berikut; 1. Emosinya
sudah mulai terarah pada sesuatu (orang, benda, dan lainnya), 2. sejajar
dengan perkembangan bahasa yang sudah dimulai pada usia 2 tahun maka ia sudah
dapat menyatakan perasaannya dengan bahasa. 3. sifat-sifat perasaan anak pada
masa ini adalah labil (mudah berubah) terkadang menangis tetepi segera tertawa
dan mudah terpengaruhi.
4.
Perkembangan Bahasa
Ada tiga
bentuk pra-bahasa yang normal muncul dalam pola perkembangan bahasa, yakni
menangis, mengoceh dan isyarat. Menangis adalah lebih penting karena merupakan
dasar bagi perkembangan bahasa pada bayi. Isyarat dipakai bayi sebagai pengganti
bahasa sedangkan pada orang dewasa isyarat sebagai pelengkap bahasa. Oleh
karena bahasa dipelajari melalui proses meniru maka bayi perlu memperolah model
atau contoh yang baik supaya dapat meniru kata-kata yang baik. Bahasa bayi
mengalami perkembangan dalam beberapa tahap seiring dengan berkembangnya
intelegensinya, secara umum tahap-tahap bahasa itu antara lain; tahap
permulaan, Stadium Purwoko (6-12 bulan) atau masa meraban yakni tahap
mengeluarkan bermacam-macam suara yang tidak berarti, misalnya ba-ba,
ma-ma.dsb. selanjutnya adalah tahap pertama Stadium Kalimat Satu Kata (12-16
bulan), pada masa ini anak sudah dapat mengucapkan mama, papa, mamam, dsb yang
merupakan sebuah kalimat tetapi tidak lengkap atau single word sentence.
Selanjutnya adalah tahap Kedua Stadium Nama (16-24 bulan), yang mana anak sudah
mulai timbul kesadaran bahwa setiap orang atau benda mempunyai nama sehingga
disebut Stadium Nama.
5.
Perkembangan Bermain
Bermain atau
setiap kegiatan yang menimbulkan kesenangan, dimulai dalam bentuk sederhana
pada masa bayi. Bermain pada masa ini terutama terdiri dari gejala-gejala
gerakan motorik yang tidak menentu dan perangsangan organ-organ keindraan.
Permainan pada masa bayi bersifat bebas dan spontan yang ditandai dengan tidak
adanya aturan-aturan dan lebih bersifat sendiri daripada dengan orang lain.
Piaget menjelaskan bahwa,” bermain terdiri atas tanggapan yang diulang sekedar
untuk kesenangan fungsional”. Pada masa
bayi mencapai usia tiga bulan, umumnya penguasaan tangan telah sedemikian
berkembang dan telah memungkinkan si bayi untuk bermain dengan boneka atau
mainan lainnya. Pada usia dua tahun selanjutnya permainan sudah mulai teratur
dan boneka atau mobil-mobilan dipakai untuk berbagai macam permainan. Cirri
khas nya pada masa ini adalah permainannya banyak melibatkan berjalan, melempar
mainan dan memungutnya kembali.
6.
Perkembangan Kepribadian
Pada masa
ini masih berkembang sikap egosentris (keAkuan). Ini berarti bahwa anak
memandang segala sesuatu dilihat dari sudut pandang sendiri, dan di tujukan
untuk kepentingan dirinya sendiri, tidak menghiraukan kepentingan orang lain.
Ia adalah raja (ratu) yang kebutuhannya harus terpenuhi. Sikap egosentris ini
mempengaruhi sikap sosialnya, seperti, orang sekitarnya harus melayaninya,
permintaannya harus dipenuhi. Sikap-sikap yang tampaknya tidak baik ini
merupakan pilaku wajar atau normal bagi perkembangan usia bayi karena masa ini
masih sangat rentan dikuasai oleh nalurinya (bersifat inpulsif), dan kemampuan
berpikirnya belum cukup berkembang. Tugas perkembangan pokok bagi
bayi adalah memperoleh atau mengembangkan sikap percaya dan mengatasi atau
menghindari diri dari sikat tidak percaya tersebut. Ketercapaian sikap
tersebut amat dipengaruhi kondisi lingkungan sekitar. Lingkungan
pertama bagi anak adalah orang tuanya, terutama ibunya. Jika seorang bayi
diberi perhatian, pemeliharaan, pemberian kasih sayang yang cukup seperti
senyuman, belaian, maka cenderung anak akan mengembangkan sikap positif
terhadap ibunya dan lingkungannya. Sikap ini menjadi dasar perkembangan
kepribadian anak secara normal.
7.
Perkembangan Moral
Seorang anak
yang dilahirkan belum memiliki tentang apa yang baik atau tidak baik. Pada masa
ini tingkah laku anak (bayi) hampir semuanya didominasi oleh dorongan naluriah
belaka (impulsive). Oleh karena itu, tingkah laku anak belum bisa dinilai
sebagai tingkah laku bermoral atau tidak bermoral. Pada masa ini anak cenderung
mengulangi perbuatan yang menyenangkan, dan tidak mengulangi perbuatan yang
tidak menyenangkan. Dengan melihat kecenderungan prilaku anak tersebut maka
untuk menanamkan konsep-konsep moral pada anak, ada baiknya dilakukan beberapa
hal seperti memberi pujian, ganjaran, atau dicim, dipeluk, dan diberi kata-kata
pujian apabila ia melakukan sesuatu yang baik. Sehingga menjadi faktor penguat
agar tindakan baiknya dapat dilakukan kembali. Dan sebaliknya, memberi ia
hukuman atau memberikan sesuatu yang mendatangkan perasaan yang tidak senang
agar ia tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Jika perlakuan pada anak dilakukan
secara teratur maka akan tertanam pada diri anak tentang pengertian atau konsep
moral. Anak akan mengerti bahwa suatu perbuatan yang mendapat pujian adalah
baik dan perbuatan yang mendapat hukuman adalah dilarang.
8.
Perkembangan Kesadaran Beragama
Menurut
Arnold Gessel, anak pada usia bayi sudah mempunyai perasaan ketuhanan. Perasaan
ini sangat memegang peranan penting dalam diri pribadi anak. Perasaan ketuhanan
pada masa ini adalah fundamen bagi perkembangan perasaan ketuhanan pada periode
selanjutnya. Seiring dengan perkembangan kognisi, emosi, dan bahasa anak maka
untuk membantu perkembangan kesadaran beragamanya, orang tua sebagai lingkungan
pertama seyogyanya melakukan hal-hal seperti, mengenalkan konsep-konsep atau
nilai-nilai agama kepada anak melalui bahasa seperti membacakan bismillaahirrahmaanirrahim
pada saat memulai memberi makan atau mandi dan membacakan alhamdulillahirabbil’alamin
sesudahnya. Dan pada saat tidurnya hendaknya membiasakan mengucapkan
kalimah-kalimah toyyibah (zikir). Memperlakukan anak dengan kasih sayang karena
pada usia ini belum berkembang pemahaman kasih sayang Tuhan. Melalui kasih
sayang orang tua nya ia akan percaya pada apa yang disampaikan kepadanya dan ia
akan yakin bahwa agama itu sesuatu yang menyenangkan. Kemudian memberikan
contoh dalam mengerjakan ajaran agama secara baik dan kontinuitas seperti
mengajak sholat berjama’ah berdo’a dan sebagainya.
9.
Perkembangan Social
Merupakan
pencapaian kematangan dalam hubunagn social dan sebagai proses belajar untuk
menyesuaiakn diri terhadap norma-norma kelompok moral dan tradisi yang menjadi
satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama. Pada usia anak bentuk
dan tingkah laku social adalah pembangkangan, agresi, berselisih/bertengkar,
menggoda, persaingan, kerjasama, tingkah laku berkuasa, mementingkan diri
sendiri, dan simpati kepada
lingkungan.
BAB
lll
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam kehidupan manusia semenjak
dalam kandungan hinga meninggal dunia, manusia pernah melalui proses-proses
yang di dalamnya terjadi perubahan-perubahan baik fisik maupun psikis.
Perubahan tersebut terjadi karena adanya pertumbuhan dan perkembangan dalam diri
manusia. Pertumbuhan dan perkembangan adalah dua istilah yang senantiasa
digunakan secara bergantian, keduanya tidak bisa di pisah-pisah, akan tetapi
saling bergantung satu sama lainya. Perkembangan
Fisik Pada tahun
pertama pertumbuhan fisik sangat cepat sedangkan pada tahun kedua sudah mulai
mengendur. Pola
perkembangan bayi laki-laki dan bayi perempuan sama. Tinggi badan secara proporsional lebih lambat dari pertumbuhan berat badan
pada tahun pertama dan lebih cepat pada tahun kedua. Pada usia 0-8 minggu kehidupan bayi sangat dikuasai oleh emosi (impulsif)
dan emosinya sangat bertalian dengan indrawinya (fisik) dengan kualitas
perasaan; senang dan tidak senang. Misalnya bayi senyum atar tidur pulas kalau
merasa kenyang, hangat, dan nyaman. Dan dia menangis kalau lapar, haus, dingin
atau sakit. Pada usia 8 minggu hingga 1 tahun, perasaan psikis sudah mulai
berkembang. Anak tersenyum (senang) jika melihat mainan yang didapatinya, atau
melihat orang yang telah dikenalnya. Dan sebaliknya ia akan tidak senang
jika melihat orang yang tidak dikenalnya atau menangis.
Merupakan pencapaian
kematangan dalam hubunagn social dan sebagai proses belajar untuk menyesuaiakn
diri terhadap norma-norma kelompok moral dan tradisi yang menjadi satu kesatuan
dan saling berkomunikasi dan bekerja sama. Pada usia anak bentuk dan tingkah
laku social adalah pembangkangan, agresi, berselisih/bertengkar, menggoda,
persaingan, kerjasama, tingkah laku berkuasa, mementingkan diri sendiri, dan
simpati kepada lingkungan.