Jumat, 10 April 2015

MakalahPertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik Pada Masa Pra Sekolah



BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Sekolah adalah tempat dimana manusia atau insan menempuh pendidikan atau menuntut ilmu. Selain itu di dalam sekolah kita dapat berinterksi kepada masyarakat atau lingkungan. Di dalam sebuah lingkungan sekolah terdapat pendidik dan peserta didik, atau biasa di sebut dengan guru atau dosen dan anak murid, siswa atau mahasiawa. Sebagai pendidik kita tentunya harus di didik terlebih dahulu, agar kita mampu menjadi seorang pendidik yang baik dan benar dan pendidik yang professional. Selain itu sebagai seorang pendidik kita juga dituntut untuk mengetahui dan memahami apa saja yang berhubungan dengan anak didik kita. Dalam pembahasan ini kita akan membahas Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik pada Masa Pra Sekolah. Sejak manusia lahir, bahkan dalam kandungan saat terjadi ovum (pembuahan) sampai meningal dunia, manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Banyak orang yang mengunakan istilah pertumbuhan dan perkembangan secara bergantian. Kedua proses ini berlangsung secara interdepedensi, artinya saling bergantung satu sama lain. Kedua proses ini tidak dapat di pisahkan dalam bentuk-bentuk secara pilah sendiri-sendiri, akan tetapi bisa dibedakan untuk maksud lebih memperjelas penggunaanya. Mempelajari tentang Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik pada Masa Pra Sekolah dapat membantu kita dalam memahami kondisi atau kedaan anak didik kita. Pertumbuhan itu sendiri adalah perubahan fisiologis dengan bertambah berat, panjang, dan pematangan fungsi-fungsi fisik lainya. Sedangkan perkembangan adalah perubahan dan kompleksitas fungsi fisik dan psikis. Dalam hal ini kedua proses tersebut memiliki tahapan-tahapan, diantaranya tahap secara moral dan spiritual. Dengan mempelajari materi ini setidaknya kita tau bagaimana cara mendidik anak didik kita yang sedang tumbuh dan berkembang.




B.     Rumusan Masalah
Adapun Rumusan Masalah Makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Apa definisi pertumbuhan dan perkembangan?
2.      Apa saja aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan peserta didik pada masa pra sekolah?
3.      Apa yang dimaksud dengan perkembangan sosial dan emosi anak?
4.      Apa itu perkembanagn moral?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Mempelajari tumbuh kembang pada anak pra sekolah
2.      Mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik, intelektual social, emosional, dan perkembangan moral.


















BAB 11
PEMBAHASAN

A.     Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan

Dalam kehidupan manusia semenjak dalam kandungan hinga meninggal dunia, manusia pernah melalui proses-proses yang di dalamnya terjadi perubahan-perubahan baik fisik maupun psikis. Perubahan tersebut terjadi karena adanya pertumbuhan dan perkembangan dalam diri manusia. Pertumbuhan dan perkembangan adalah dua istilah yang senantiasa digunakan secara bergantian, keduanya tidak bisa di pisah-pisah, akan tetapi saling bergantung satu sama lainya.
Secara umum Pertumbuhan adalah perubahan fisiologis dengan bertambah berat, panjang dan pematangan fisik-fisik lainya. Contohnya adalah bayi bertambah berat dan tingginya. Perkembangan adalah perubahan dan kompleksitas fungsi fisik dan psikis. Contonya adalah anak dalam percakapan sehari-hari bertambah baik, perbendaharaan kosa kata anak bertambah banyak. Berikut definisi pertumbuhan dan perkembangan menurut para ahli :
1.      Kartono. (1982)
Perkembangan adalah perubahan psikofisis sebagai hasil pematangan proses psikis dan fisis pada anak yang ditunjang oleh faktor ingkungan dan proses belajar pada fase tertentu menuju kedewasaan.
2.      Monks, dkk. (1984)
Perkembangan adalah berfungsinya aspek fisik atau psikis tertentu.
3.      Warner, dkk. (1994)
Perkembangan adalah unsur keseluruhan (totalitas) dan berkesinambungan yang berlangsung secara bertahap.
4.      Libert, Paulus dan Stauss. (1990)
Perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dalam lingkungan.



5.      Crow dan Crow
Pertumbuhan pada umumnya dibatasi pada perubahan-perubahan struktura dan fungsional dalam pembentukan seseorang secara jasmaniah dari saat masi terbentuk konseptional (janin) melalui periode pranetal (dalam kandungan), postnatal (lahir) sampai pada kedewasaanya.
6.      Oman Karnmana
Pertumbuhan adalah proses bertambahnya proses protoplasma sel pada suatu organisme, biasanya disertai dengan pertambahan ukuran berat serta jumblah sel yang bersifat tidak kembali pada keadaan semula.
7.      Tim Biologi
Pertumbuhan adalah proses penambahan volume tubuh makhluk hidup yang sifatnya tidak bisa kembali ke keadaan semula. Penambahan disebabkan karena adanya penambahan jumblah dan volume sel, karena adanya pembelahan mitosis dan pembesaran sel.

1.      Perbedaan Pertumbuhan dan Perkembangan
a.      Ciri-ciri pertumbuhan adalah sebagai berikut :
1)      Dalam pertumbuhan akan terjadi perubahan ukuran dalam hal bertambahnya ukuran fisik, seperti berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar dada, dan lain-lain.
2)      Dalam pertumbuhan dapat terjadi perubahan proporsi yang dapat terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia yang muncul mulai dari masa konsepsi hingga dewasa.
b.      Ciri-ciri perkembangan adalah sebagai berikut :
1)      Perkembangan selalu melibatkan pertumbuhan yang diikuti dari perubahan fungsi, seperti perkembangan system reproduksi akan didikuti perubahan pada fungsi alat kelamin.
2)      Perkembangan memiliki pola yang konstan dengan hukum tetap, yaitu perkembangan dapat terjadi dari daerah kepala menuju kearah kaudal atau dari bagian proksimal ke bagian distal.
3)      Perkembangan memiliki tahapan yang mulai dari kemauan melakukan hal yang sederhana menuju kemampuan melakukan hal yang sempurna.

2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
a.      Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan adalah sebagai berikut :
1)      Faktor eksternal
·         Keluarga
·         Lingkungan
·         Teman bermain
·         Budaya
·         Media masa
·         Pendididkan

2)      Factor internal
·         Genetik
·         Kondisi fisik
·         Kemampuan menyesuaikan pribadi dan social individu
b.      Factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan adalah sebagai berikut:
1)      Teori Nativisme
Teori nativisme berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh natives (pembawaan) atau keturunan. Jika pembawaan atau keturunanya baik maka baik pula perkembanganya. Sebaliknya, jika pembaruanya buruk, maka perkembangan anaknya menjadi buruk pula. Tokoh utama teori ini adalah Arthur Schopenhaner (1788-1860) seorang filsuf jerman.  Aliran filsafat ini disebut juga dengan aliran pesimistis. Secara biologis memang ada aspek-aspek biologis sebagai pembawaan yang diturunkan oleh orang tua kepada anaknya misalnya warna kulit, rambut, bentuk hidung. Adapun sifat-sifat lain yang diperoleh orang tua karena pengalaman dan pendidikan dapat diturunkan kepada anak.
2)      Teori Empirisme atau Lingkungan
Teori empirisme bertentangan dengan nativisme. Tokoh teori ini adalah John Lock (1632-1707). Menurut teori ini perkembangan manusia ditentukan oleh empiris atau lingkungan. Teori ini juga berpendapat bahwa perkembanagn anak ditentukan oleh pengaruh pengalaman pendidikan. Pada aliran ini anak diumpamakan kertas putih yang dapat ditulis dengan tinta warna apa saja. Perumpamaan tersebut menekankan pentingnya pendidikan pada perkembanagn anak.
3)      Teori Konvergensi
Teori ini berpendapat bahwa factor yang mempengaruhi perkembangan manusia dipengaruhi oleh factor pembawaan atau lingkungan, yang keduanya sama mempunyai peranan yang penting. Factor hereditas tidak berkembanag tanpa adanya factor pendidikan (lingkungan), dan begitu pula sebaliknya, factor lingkungan juga tidak berarti tanpa adanya potensi (bawaan) dari anak. Factor tersebut akan tergantung pada interaksi anak dengan lingkunganya. Bila ineteraksinya bagus, maka diharapkan akan memperoleh hasil yang bagus dan sebaliknya jika interksinya tidak baik maka hasilnya tidak akan baik pula.








  
B.      Aspek-aspek Perkembangan Anak pada Masa Pra Sekolah

1.      Perkembangan Fisik

Perkembangan fisik bayi mempunyai karakteristik seperti berikut :
1.      Pada tahun pertama pertumbuhan fisik sangat cepat sedangkan pada tahun kedua sudah mulai mengendur.
  1. Pola perkembangan bayi laki-laki dan bayi perempuan sama.
  2. Tinggi badan secara proporsional lebih lambat dari pertumbuhan berat badan pada tahun pertama dan lebih cepat pada tahun kedua.
  3. Pertumbuhan otak tampak dengan bertambah besarnya ukuran tengkorak kepala.
  4. Organ keindraan berkembang dengan cepat selama masa bayi dan sanggup berfungsi dengan memuaskan sejak bulan-bulan pertama dari kehidupan. Alat indra lainnya yang juga berkembang adalah  pendengaran dan penciuman.
  5. Fungsi-fungsi fisiologis. Masa bayi merupakan masa dasar pembinaan pola-pola seperti makan, tidur, dan buang air harus terbentuk.
  6. Perkembangan penguasaan otot-otot. Perkembangan penguasaan otot-otot mengikti pola yang jelas dan dapat diduga yang ditentukan oleh hukum arah perkembangan. Menurut hukum ini, penguasaan atau pengendalian otot-otot bergerak melalui tubuh dari arah kepala munuju kaki.
2.      Perkembangan Intelegensi
Sejak tahun pertama dari usia bayi, fungsi intelegensi sudah mulai tampak dalam bertingkah lakunya, umpamanya dalam bertingkah laku motorik dan berbicara. Anak yang cerdas menunjukan gerakan-gerakan lancar, serasi, dan berkoordinasi dan cepat dalam perkembangan bahasanya. Sedangkan anak yang kurang cerdas, gerakan-gerakannya kaku, dan kurang terkoordinasi. Dilihat dari perkembangan kognitifnya, menurut Piaget, usia bayi (tahun pertama) ini berada pada periode sensorimotor. Bayi mengenal objek-objek yang berada disekelilingnya melalui system pengindraan (penglihatan dan pendengaran dan indra lainnya) serta gerakan motoriknya (refleks, seperti mengenyot dan menggerakkan kepala ke arah rangsangan). Meskipun ketika baru dilahirkan seorang bayi sangat bergantung dan tidak berdaya, tetapi sebagian alat-alat indranya sudah langsung bisa berfungsi seperti mengenyot dan menghisap susu ibu.
3.      Perkembangan Emosi
Pada usia 0-8 minggu kehidupan bayi sangat dikuasai oleh emosi (impulsif) dan emosinya  sangat bertalian dengan indrawinya (fisik) dengan kualitas perasaan; senang dan tidak senang. Misalnya bayi senyum atar tidur pulas kalau merasa kenyang, hangat, dan nyaman. Dan dia menangis kalau lapar, haus, dingin atau sakit. Pada usia 8 minggu hingga 1 tahun, perasaan psikis sudah mulai berkembang. Anak tersenyum (senang) jika melihat mainan yang didapatinya, atau melihat orang yang telah dikenalnya.  Dan sebaliknya ia akan tidak senang jika melihat orang yang tidak dikenalnya atau menangis. Pada fase ini terjadi penguraian yaitu dari perasaan senang dan tidak senang jasmaniah menjadi perasaan-perasaan marah, jengkel, terkejut, dan takut. Pada usia 1,0 tahun-3,0 tahun gejala-gejala perkembangan emosi bayi adalah sebagai berikut; 1. Emosinya sudah mulai terarah pada sesuatu (orang, benda, dan lainnya),  2. sejajar dengan perkembangan bahasa yang sudah dimulai pada usia 2 tahun maka ia sudah dapat menyatakan perasaannya dengan bahasa. 3. sifat-sifat perasaan anak pada masa ini adalah labil (mudah berubah) terkadang menangis tetepi segera tertawa dan mudah terpengaruhi.
4.      Perkembangan Bahasa
Ada tiga bentuk pra-bahasa yang normal muncul dalam pola perkembangan bahasa, yakni menangis, mengoceh dan isyarat. Menangis adalah lebih penting karena merupakan dasar bagi perkembangan bahasa pada bayi. Isyarat dipakai bayi sebagai pengganti bahasa sedangkan pada orang dewasa isyarat sebagai pelengkap bahasa. Oleh karena bahasa dipelajari melalui proses meniru maka bayi perlu memperolah model atau contoh yang baik supaya dapat meniru kata-kata yang baik. Bahasa bayi mengalami perkembangan dalam beberapa tahap seiring dengan berkembangnya intelegensinya, secara umum tahap-tahap bahasa itu antara lain; tahap permulaan, Stadium Purwoko (6-12 bulan) atau masa meraban yakni tahap mengeluarkan bermacam-macam suara yang tidak berarti, misalnya ba-ba, ma-ma.dsb. selanjutnya adalah tahap pertama Stadium Kalimat Satu Kata (12-16 bulan), pada masa ini anak sudah dapat mengucapkan mama, papa, mamam, dsb yang merupakan sebuah kalimat tetapi tidak lengkap atau single word sentence. Selanjutnya adalah tahap Kedua Stadium Nama (16-24 bulan), yang mana anak sudah mulai timbul kesadaran bahwa setiap orang atau benda mempunyai nama sehingga disebut Stadium Nama.
5.      Perkembangan Bermain
Bermain atau setiap kegiatan yang menimbulkan kesenangan, dimulai dalam bentuk sederhana pada masa bayi. Bermain pada masa ini terutama terdiri dari gejala-gejala gerakan motorik yang tidak menentu dan perangsangan organ-organ keindraan. Permainan pada masa bayi bersifat bebas dan spontan yang ditandai dengan tidak adanya aturan-aturan dan lebih bersifat sendiri daripada dengan orang lain. Piaget menjelaskan bahwa,” bermain terdiri atas tanggapan yang diulang sekedar untuk kesenangan fungsional”. Pada masa bayi mencapai usia tiga bulan, umumnya penguasaan tangan telah sedemikian berkembang dan telah memungkinkan si bayi untuk bermain dengan boneka atau mainan lainnya. Pada usia dua tahun selanjutnya permainan sudah mulai teratur dan boneka atau mobil-mobilan dipakai untuk berbagai macam permainan. Cirri khas nya pada masa ini adalah permainannya banyak melibatkan berjalan, melempar mainan dan memungutnya kembali.
6.      Perkembangan Kepribadian
Pada masa ini masih berkembang sikap egosentris (keAkuan). Ini berarti bahwa anak memandang segala sesuatu dilihat dari sudut pandang sendiri, dan di tujukan untuk kepentingan dirinya sendiri, tidak menghiraukan kepentingan orang lain. Ia adalah raja (ratu) yang kebutuhannya harus terpenuhi. Sikap egosentris ini mempengaruhi sikap sosialnya, seperti, orang sekitarnya harus melayaninya, permintaannya harus dipenuhi. Sikap-sikap yang tampaknya tidak baik ini merupakan pilaku wajar atau normal bagi perkembangan usia bayi karena masa ini masih sangat rentan dikuasai oleh nalurinya (bersifat inpulsif), dan kemampuan berpikirnya belum cukup berkembang.  Tugas perkembangan  pokok bagi bayi adalah memperoleh atau mengembangkan sikap percaya dan mengatasi atau menghindari diri dari sikat tidak percaya tersebut. Ketercapaian  sikap tersebut amat  dipengaruhi kondisi lingkungan sekitar. Lingkungan  pertama bagi anak adalah orang tuanya, terutama ibunya. Jika seorang bayi diberi perhatian, pemeliharaan, pemberian kasih sayang yang cukup seperti senyuman, belaian, maka cenderung anak akan mengembangkan sikap positif terhadap ibunya dan lingkungannya. Sikap ini menjadi dasar perkembangan kepribadian anak secara normal.

7.      Perkembangan Moral
Seorang anak yang dilahirkan belum memiliki tentang apa yang baik atau tidak baik. Pada masa ini tingkah laku anak (bayi) hampir semuanya didominasi oleh dorongan naluriah belaka (impulsive). Oleh karena itu, tingkah laku anak belum bisa dinilai sebagai tingkah laku bermoral atau tidak bermoral. Pada masa ini anak cenderung mengulangi perbuatan yang menyenangkan, dan tidak mengulangi perbuatan yang tidak menyenangkan. Dengan melihat kecenderungan prilaku anak tersebut maka untuk menanamkan konsep-konsep moral pada anak, ada baiknya dilakukan beberapa hal seperti memberi pujian, ganjaran, atau dicim, dipeluk, dan diberi kata-kata pujian apabila ia melakukan sesuatu yang baik. Sehingga menjadi faktor penguat agar tindakan baiknya dapat dilakukan kembali. Dan sebaliknya, memberi ia hukuman atau memberikan sesuatu yang mendatangkan perasaan yang tidak senang agar ia tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Jika perlakuan pada anak dilakukan secara teratur maka akan tertanam pada diri anak tentang pengertian atau konsep moral. Anak akan mengerti bahwa suatu perbuatan yang mendapat pujian adalah baik dan perbuatan yang mendapat hukuman adalah dilarang.      
8.      Perkembangan Kesadaran Beragama
Menurut Arnold Gessel, anak pada usia bayi sudah mempunyai perasaan ketuhanan. Perasaan ini sangat memegang peranan penting dalam diri pribadi anak. Perasaan ketuhanan pada masa ini adalah fundamen bagi perkembangan perasaan ketuhanan pada periode selanjutnya. Seiring dengan perkembangan kognisi, emosi, dan bahasa anak maka untuk membantu perkembangan kesadaran beragamanya, orang tua sebagai lingkungan pertama seyogyanya melakukan hal-hal seperti, mengenalkan konsep-konsep atau nilai-nilai agama kepada anak melalui bahasa seperti membacakan bismillaahirrahmaanirrahim pada saat memulai memberi makan atau mandi dan membacakan alhamdulillahirabbil’alamin  sesudahnya. Dan pada saat tidurnya hendaknya membiasakan mengucapkan kalimah-kalimah toyyibah (zikir). Memperlakukan anak dengan kasih sayang karena pada usia ini belum berkembang pemahaman kasih sayang Tuhan. Melalui kasih sayang orang tua nya ia akan percaya pada apa yang disampaikan kepadanya dan ia akan yakin bahwa agama itu sesuatu yang menyenangkan. Kemudian memberikan contoh dalam mengerjakan ajaran agama secara baik dan kontinuitas seperti mengajak sholat berjama’ah berdo’a dan sebagainya.

9.      Perkembangan Social
Merupakan pencapaian kematangan dalam hubunagn social dan sebagai proses belajar untuk menyesuaiakn diri terhadap norma-norma kelompok moral dan tradisi yang menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama. Pada usia anak bentuk dan tingkah laku social adalah pembangkangan, agresi, berselisih/bertengkar, menggoda, persaingan, kerjasama, tingkah laku berkuasa, mementingkan diri sendiri, dan simpati kepada lingkungan.










BAB lll
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Dalam kehidupan manusia semenjak dalam kandungan hinga meninggal dunia, manusia pernah melalui proses-proses yang di dalamnya terjadi perubahan-perubahan baik fisik maupun psikis. Perubahan tersebut terjadi karena adanya pertumbuhan dan perkembangan dalam diri manusia. Pertumbuhan dan perkembangan adalah dua istilah yang senantiasa digunakan secara bergantian, keduanya tidak bisa di pisah-pisah, akan tetapi saling bergantung satu sama lainya. Perkembangan Fisik  Pada tahun pertama pertumbuhan fisik sangat cepat sedangkan pada tahun kedua sudah mulai mengendur. Pola perkembangan bayi laki-laki dan bayi perempuan sama. Tinggi badan secara proporsional lebih lambat dari pertumbuhan berat badan pada tahun pertama dan lebih cepat pada tahun kedua. Pada usia 0-8 minggu kehidupan bayi sangat dikuasai oleh emosi (impulsif) dan emosinya  sangat bertalian dengan indrawinya (fisik) dengan kualitas perasaan; senang dan tidak senang. Misalnya bayi senyum atar tidur pulas kalau merasa kenyang, hangat, dan nyaman. Dan dia menangis kalau lapar, haus, dingin atau sakit. Pada usia 8 minggu hingga 1 tahun, perasaan psikis sudah mulai berkembang. Anak tersenyum (senang) jika melihat mainan yang didapatinya, atau melihat orang yang telah dikenalnya.  Dan sebaliknya ia akan tidak senang jika melihat orang yang tidak dikenalnya atau menangis.
Merupakan pencapaian kematangan dalam hubunagn social dan sebagai proses belajar untuk menyesuaiakn diri terhadap norma-norma kelompok moral dan tradisi yang menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama. Pada usia anak bentuk dan tingkah laku social adalah pembangkangan, agresi, berselisih/bertengkar, menggoda, persaingan, kerjasama, tingkah laku berkuasa, mementingkan diri sendiri, dan simpati kepada lingkungan.